Berita

Perusahaan Tambang Nikel Di Kolaka Keruk Halaman Sekolah

Kendari, Jarrakpossultra.com | Keberadaan aktivitas pertambangan di Kecamatan Batu Putih, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara semakin tak terbendung. Pasalnya hasil temuan mahasiswa dilapangan bahwa banyak aktivitas tambang yang secara ilegal, yang diperparah semakin menggila.
Bahkan salah satu penambang lokal melakukan aktivitas pengalian tanah ore nikel dihalaman Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Batu Putih yang berada di Desa Mekuasseng.Kondisi SMAN 1 Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), penuh dengan tanah hasil kerukan alat berat perusahaan tambang nikel Kawasan ini masuk dalam IUP PT Kasmar Tiar Raya. Dhajar, selaku Kepala Desa Mekuasseng, yang sekaligus sebagai Ketua Komite sekolah tersebut mengatakan, proses pengerukan halaman sekolah itu sudah berlangsung sejak dua bulan. Dia menyampaikan bahwa alat berat yang beroperasi itu adalah milik PT Kasmar.

Diduga kegilaan penambangan ilegal ini sepertinya mendapat dukungan dari aparat penegak hukum, Dinas ESDM yang memiliki kewenangan dalam sektor pertambangan seakan tidak bernyali untuk menindaki para pelaku tambang ilegal ini.
“PT Kasmar Tiar Raya (KTR) merupakan pemilik IUP yang paling bertanggungjawab atas maraknya aktivitas kejahatan disektor pertambangan. Pasalnya dokumen PT KTR lah yang dipakai para pelaku tambang ilegal ini untuk melakukan penjualan tanah ore ilegal,” beber Ketua Pergerakan Pemuda Mahasiswa Kolaka Raya, Nur Alim, Senin (23/3/2020).
Nur Alim sangat menyayangkan adanya aktifitas penambangan yang dilakukan di halaman sekolah.
“Kami sangat menyayangkan adanya aktifitas penambangan yang dilakukan diruang lingkup sekolah, apalagi persoalan penambangan ilegal di Kolaka Utara ini sudah kami laporkan di Polda Sultra,Tapi nampaknya memang ada konspirasi besar-besaran yang terjadi antara aparat penegak hukum dan pelaku tambang ilegal, karena hingga saat ini laporan kami tak kunjung ada tindak lanjutnya,” ungkapnya.
“Insya Allah dalam waktu dekat kami akan kembali melakukan aksi unjuk rasa di Provinsi terkait aktifitas penambangan ilegal ini dan sekaligus melaporkan penambang yang terjadi di ruang lingkup sekolah kepada Gubernur Sulawesi tenggara dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara,” tandasnya.

Sementara itu dikonfirmasi kepada Kades Mekuasseng, Dadjar mengatakan pengalian tanah ore dihalaman SMA Negeri Batu Putih telah dirapatkan dengan pihak sekolah dan mendapat persetujuan dari para orang tua siswa.

pengerukan halaman sekolah itu sudah mendapat izin dari pihak sekolah. “Itu kemarin sebelum digali itu toh, sudah sepakat gurunya dengan kepala sekolah,” ujar Dhajar, dikonfirmasi Rabu (25/3).
Lanjut Dhajar, kesepakatan itu diambil setelah melihat kondisi sekolah yang memang berada diperbukitan. Jadi, sekolah tersebut tidak mempunyai lapangan upacara, karena di tengah-tengah sekolah tebing curam.
Atas dasar itulah, pihak sekolah meminta ke pihak perusahaan untuk mengambil tanah yang diduga mengandung ore nikel kadar rendah.
“Itu disepakati dikasi penambang kalau ada izinnya. Namun tidak ada izinnya, tetap akan digali untuk lokasi lapangan upacara,” tuturnya.
Dia mengklaim, tidak ada komplain dari pihak sekolah maupun orang tua murid atas aktivitas alat berat di tengah-tengah sekolah. Pasalnya, proses pengerukan dilakukan saat siswa pulang sekolah.
“Tidak ada, termasuk keluhan debu juga tidak ada,” terangnya.
Di tempat lain, Ketua Pergerakan Pemuda Mahasiswa Kolaka Raya, Nur Alim membantah pernyataan Dhajar. Dia menduga, ada konspirasi antara pihak sekolah, aparat desa, bahkan penegak hukum setempat.B

Bahkankata dia, sebagian ore hasil kerukan di tengah sekolah itu sudah di jual dan diduga pihak sekolah dan komite mendapat fee dari hasil penjualannya.

“Nampaknya memang ada konspirasi besar-besaran yang terjadi antara aparat penegak hukum dan pelaku tambang ilegal,” ujar Nur Alim.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara, Asrun Lio mengaku belum mengetahui adanya pengerukan tanah di SMAN 1 Batu Putih.
“Terimakasih informasinya, saya akan komunikasi dengan KDC Kolaka Utara untuk cek ke sekolah,” ujar Asrun.
Asrun menjelaskan, jika memang pihak sekolah hanya melakukan penataan sekolah dengan meretakan bagian tengah sekolah itu, maka tidak menjadi masalah.
Yang jadi masalah kata Asrun, jika pihak sekolah juga ikut mengambil keuntungan.
Kuasa Direktur PT Kasmar Tiar Raya, Sulkifli yang dihubungi membantah informasi tersebut. Kata dia, pihaknya (PT. Kasmar) tidak pernah melakukan
di wilayah sekolah. Tapi dia membenarkan jika SMAN 1 Batu Putih itu masuk dalam IUP Kasmar.
“Ini yang saya heran pak. Banyak yang jual-jual nama PT Kasmar tapi dia tidak punya legal standing. Ini saya sementara telusuri juga ini pak, siapa orangnya,” ujar Sul.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada hasil pengecekan dari KDC Kolaka Utara yang diutus oleh Dikbud Provinsi Sultra terkait persolan di SMAN 1 Batu Putih.

Editor: Effendi |GR

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close